JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan pasar energi global pada awal Februari 2026. Pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026, harga minyak tercatat melemah cukup tajam setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda.
Kondisi ini mencerminkan perubahan sentimen pelaku pasar yang sebelumnya cenderung waspada terhadap potensi ketegangan geopolitik. Namun, perkembangan terbaru justru memberikan sinyal positif terkait stabilitas pasokan minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami koreksi signifikan pada perdagangan hari itu. Penurunan harga ini menjadi perhatian karena terjadi setelah beberapa hari sebelumnya pasar bergerak relatif stabil.
Seperti dilansir Reuters, harga minyak WTI untuk pengiriman Maret 2026 turun US$1,85 atau sekitar 2,84 persen. Harga tersebut ditutup di level US$63,29 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman April 2026 juga mengalami penurunan. Harga Brent merosot US$1,91 atau sekitar 2,75 persen menjadi US$67,55 per barel di London ICE Futures Exchange.
Pelemahan harga minyak ini mencerminkan respons pasar terhadap situasi geopolitik yang dianggap mulai kondusif. Investor kini menilai risiko gangguan suplai minyak global tidak sebesar perkiraan sebelumnya.
Perubahan sentimen ini membuat pelaku pasar lebih fokus pada keseimbangan antara permintaan dan pasokan. Dalam kondisi tersebut, tekanan jual di pasar minyak menjadi lebih dominan dibandingkan minat beli.
Penurunan harga minyak juga berdampak pada berbagai sektor yang bergantung pada energi fosil. Namun, bagi konsumen, situasi ini berpotensi membawa dampak positif berupa biaya energi yang lebih rendah.
Meski demikian, pasar tetap memantau perkembangan geopolitik yang bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap sinyal ketegangan baru berpotensi kembali memicu volatilitas harga minyak dunia.
Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran Menenangkan Pasar
Salah satu faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak dunia adalah kesepakatan diplomatik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara sepakat untuk melakukan pertemuan di Oman pada Jumat, 6 Februari 2026.
Kesepakatan tersebut membuat kekhawatiran terganggunya pasokan minyak Iran ke pasar global mereda. Sebelumnya, pasar sempat mengantisipasi potensi pembatasan ekspor minyak Iran akibat ketegangan politik.
Dengan adanya rencana pertemuan ini, pelaku pasar menilai peluang terjadinya eskalasi konflik semakin kecil. Hal tersebut secara langsung mengurangi premi risiko yang selama ini melekat pada harga minyak.
Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Setiap gangguan terhadap produksi atau ekspornya dapat memengaruhi keseimbangan pasar global.
Namun, dengan adanya sinyal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, pasar mulai melihat peluang stabilitas pasokan yang lebih besar. Hal ini membuat tekanan pada harga minyak semakin kuat.
Kesepakatan untuk bertemu di Oman juga dinilai sebagai langkah awal menuju dialog yang lebih luas. Pelaku pasar berharap pertemuan ini dapat menghasilkan kesepakatan konkret terkait sektor energi.
Stabilitas hubungan diplomatik antara negara-negara produsen minyak menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan global. Ketika risiko geopolitik menurun, harga minyak cenderung bergerak melemah.
Dalam konteks ini, sentimen pasar lebih dipengaruhi oleh optimisme daripada kekhawatiran. Hal tersebut tercermin dari pergerakan harga minyak yang langsung turun cukup tajam.
Meski demikian, investor tetap berhati-hati terhadap perkembangan lanjutan dari pertemuan tersebut. Pasar menyadari bahwa hasil diplomasi tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi.
Oleh karena itu, meskipun harga minyak melemah saat ini, volatilitas tetap berpotensi terjadi. Setiap pernyataan resmi dari pihak terkait akan terus menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Peran Selat Hormuz dalam Stabilitas Pasokan Minyak Dunia
Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia dikirimkan melalui Selat Hormuz yang berada di antara Oman dan Iran. Jalur ini menjadi salah satu rute pengiriman energi paling strategis di dunia.
Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor minyak melalui selat tersebut. Iran juga memanfaatkan jalur yang sama untuk mengirimkan minyak ke pasar global.
Karena perannya yang sangat vital, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan lonjakan harga minyak. Oleh sebab itu, stabilitas kawasan ini menjadi perhatian utama pasar energi internasional.
Sebelumnya, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sering kali memicu kekhawatiran akan terganggunya lalu lintas kapal tanker. Hal ini menyebabkan harga minyak cenderung naik akibat meningkatnya risiko pasokan.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan situasi yang relatif lebih tenang. Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran untuk bertemu di Oman menjadi salah satu faktor yang meredakan kekhawatiran tersebut.
Dengan menurunnya risiko gangguan di Selat Hormuz, pasar menilai pasokan minyak global akan tetap lancar. Hal ini memberikan tekanan tambahan pada harga minyak mentah dunia.
Stabilitas jalur pengiriman minyak juga berdampak positif terhadap aktivitas perdagangan energi internasional. Negara-negara importir minyak dapat merencanakan pasokan dengan lebih pasti.
Di sisi lain, negara-negara produsen minyak juga diuntungkan karena distribusi ekspor dapat berjalan tanpa hambatan. Namun, dalam jangka pendek, kondisi ini justru menekan harga minyak karena pasokan dianggap aman.
Pelaku pasar kini lebih fokus pada faktor fundamental seperti tingkat produksi dan permintaan global. Selama tidak ada gangguan signifikan, harga minyak cenderung bergerak dalam kisaran yang lebih rendah.
Meski demikian, Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan yang dapat memicu gejolak pasar sewaktu-waktu. Oleh karena itu, perkembangan geopolitik di kawasan tersebut terus dipantau secara ketat.
Setiap perubahan situasi keamanan di wilayah ini berpotensi langsung tercermin pada harga minyak dunia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran jalur pengiriman tersebut dalam dinamika pasar energi global.
Respons Pasar Terhadap Pelemahan Harga Minyak Dunia
Penurunan harga minyak pada 5 Februari 2026 mencerminkan perubahan persepsi risiko di kalangan pelaku pasar. Investor kini cenderung mengurangi posisi lindung nilai terhadap gangguan pasokan.
Hal ini terlihat dari meningkatnya tekanan jual di pasar berjangka minyak mentah. Aksi tersebut mendorong harga WTI dan Brent turun lebih dari 2 persen dalam satu hari perdagangan.
Pelemahan harga minyak ini juga berdampak pada saham-saham sektor energi. Perusahaan minyak dan gas biasanya merespons negatif ketika harga minyak dunia mengalami penurunan tajam.
Namun, bagi sektor transportasi dan industri pengguna energi, penurunan harga minyak dapat menjadi kabar baik. Biaya operasional berpotensi menurun sehingga dapat meningkatkan margin keuntungan.
Di sisi makroekonomi, harga minyak yang lebih rendah dapat membantu menekan inflasi. Hal ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Meski demikian, penurunan harga minyak yang terlalu dalam juga berisiko mengganggu stabilitas ekonomi negara produsen. Pendapatan negara-negara pengekspor minyak dapat tertekan jika harga terus melemah.
Dalam konteks global, pasar minyak saat ini berada dalam fase keseimbangan antara pasokan yang relatif stabil dan permintaan yang masih tumbuh moderat. Kondisi ini membuat harga cenderung bergerak fluktuatif.
Perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah harga minyak dalam waktu singkat. Setiap ketegangan baru dapat kembali memicu lonjakan harga secara tiba-tiba.
Sebaliknya, sinyal diplomasi dan kerja sama antarnegara produsen cenderung menekan harga. Situasi inilah yang saat ini sedang tercermin dalam pergerakan harga minyak dunia.
Pasar juga memperhatikan kebijakan produksi negara-negara OPEC dan sekutunya. Setiap perubahan kuota produksi dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan harga minyak.
Selain itu, data permintaan energi dari negara-negara konsumen utama seperti China dan Amerika Serikat juga menjadi indikator penting. Perlambatan ekonomi di negara-negara tersebut dapat menekan permintaan minyak global.
Dengan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar terus melakukan penyesuaian strategi investasi. Harga minyak dunia diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa waktu ke depan.
Penurunan harga pada awal Februari 2026 ini menjadi refleksi dari meredanya kekhawatiran pasokan. Namun, pasar menyadari bahwa kondisi geopolitik global dapat berubah dengan cepat.
Oleh karena itu, investor dan pelaku industri energi tetap bersikap waspada. Setiap perkembangan baru di kawasan produsen minyak utama akan terus memengaruhi arah harga minyak dunia.
Dalam jangka pendek, fokus pasar masih tertuju pada hasil pertemuan Amerika Serikat dan Iran di Oman. Hasil dialog tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian lebih lanjut mengenai stabilitas pasokan minyak.
Jika pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan positif, tekanan terhadap harga minyak kemungkinan berlanjut. Namun, jika muncul ketegangan baru, pasar bisa kembali mengalami lonjakan volatilitas.
Dengan kondisi saat ini, pasar minyak dunia berada dalam fase penyesuaian. Harga yang melemah mencerminkan optimisme sementara terhadap stabilitas pasokan energi global.
Ke depan, keseimbangan antara faktor geopolitik, produksi, dan permintaan akan tetap menjadi penentu utama arah harga minyak. Para pelaku pasar pun terus memantau setiap perkembangan dengan cermat.